Menggugat Open Source : mari kembali ke tujuan awal


SamidCorner(Tegal) – Pembaca yang budiman. Sudah beberapa tahun belakangan ini kalangan anak muda terutama para mahasiswa keranjingan sekali dengan yang namanya Open Source. Beberapa kelompok belajar serta komunitas untuk menggalakan dan memperkenalkannya juga sudah menjamur. Seiring dengan kepopulerannya ada beberpa hal yang mengusik hati saya karena ada ketidakberesan dalam penerapannya sehingga melenceng dari tujuan awal Open Source.

Open source menjadi penghilang dahaga dikala para pengguna teknologi di Indonesia rata-rata merupakan kalangan yang “Kere” alias tidak mau membeli software berbayar. Dengan Open Source seolah-olah teknologi menjadi kian murah dan meriah karena semakin banyak yang menggunakan tanpa mengeluarkan duit. Nah, open source lahir karena alasan utamanya adalah untuk menekan angka pembajakan yang notabene sangat bertentangan dengan etika kehidupan sosial. Ya jelas saja dengan membajak berarti kita sama saja mencuri karya orang lain. Membajak berarti kita merampok hak kekayaan intelektual seseorang yang merupakan hak dasar seseorang dalam mengembangkan hidupnya.

Open Source yang merupakan software terbuka dalam artian open code dan free rebuild. Mampu menghadirkan solusi jitu ditengah-tengah susahnya mendapatkan software berbayar karena harga yang bagi sebagian masyarakat Indonesia tergolong mahal. Open Source menjadi populer dengan bumbu-bumbu free yang dimaknai GRATIS alias tidak membayar.

Namun, dalam perkembangannya saya sedikit tidak setuju dengan penggiat yang bisa saya katakan keluar jalur visi dan misi open source. Sudah saya katakan tadi tujuan utama dari Open Source adalah mengurangi pembajakan dan diharapkan dapat mengubah mindset seseorang agar mau menghargai karya intelektual seseorang dan tujuan akhirnya adalah dapat menggunakan software yang legal. Tapi pada kenyataannya mereka (penggiat Open Source yang salah kaprah) men-generalisasi bahwa jika tidak menggunakan Open Source berarti pembajakan. Para pengguna Windows langsung dicecar dengan dalil-dalil agama padahal belum tentu pengguna Windows itu menggunakan software ilegal.

Oleh karena itu, pesan saya melaluli tulisan singkat ini adalah bahwa Open Source tak melulu soal benar dan salah akan tetapi kita seharusnya lebih menggiatkan mengubah mindset atau pandangan seseorang agar lebih menghargai sebuah karya intelektual dan mau serta mampu mengapresiasi baik dengan cara membeli software ataupun dengan cara yang tidak menyakiti para pengembang software baik Open maupun Closed Souce. Pesan yang sejatinya saya tujukan bagi siapapun anda penggiat Open Source, jangan terlalu saklek dalam menerapkan Open Source dan bahwa Open Source tak selamanya menjadi solusi utama dalam menekan pembajakan. Semoga kedepannya akan semakin lebih baik lagi dan masyarakat sadar akan pentingnya menghargai sebuah karya intelektual.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s